Blogger templates

Pages

Wednesday, July 4, 2012

Belajar tehnik strobist dalam fotografi

Satu lagi teknik dalam fotografi yang akan saya bagikan buat sobat aziscs1 semua Namanya adalah Strobist . Saya banyak melihat foto di forum dan facebook yang menampilkan suatu gambar dengan berbagai macam teknik pencahayaan, saya pun penasaran apa teknik, dan bagaimana cara melakukannya, dengan bantuan om google akhirnya saya menemukan "strobist berasal dari kata strobe, yang dalam istilah fotografi berarti alat yang memproduksi cahaya secara terus menerus. Dengan bahasa yang lebih populer Strobist adalah teknik menggunakan flash/blitz secara off-kamera. Off – kamera ?? iya .. pada umumnya kan flash camera tersebut nancep di hot-shoe pada kamera . Nah off-kamera ini memungkinkan flash dapat ditrigger dimanapun tanpa harus terpasang di hot-shoe. Keuntungannya kita bisa memposisikan satu atau lebih flash di mana saja untuk mengatur arah, intensitas, cahaya untuk menghasilkan foto yg kita inginkan.


  • di Nikon ada yang namanya Nikon CLS ( Creative Lighting System ) .. di Canon namanya E-TTL . Nikon CLS menggunakan IR ( infrared ) untuk berkomunikasi dengan flash – flash lain . Jadi harus line-of-sight dengan kamera lain meski kyknya bisa juga mentrigger flash lain di balik tembok ( link ) . Keuntungannya adalah canggih ! Body camera bisa berkomunikasi dengan flash-flash yang ada , mengatur power yang ada , mengatur white balance dsb dsb .. kita tinggal setting seperti biasa dan wah :) . Kerugiannya : harus line-of-sight dan mahal bo !
  • menggunakan Sync cable .. body kamera dan flash dihubungkan via kabel khusus. kerugiannya : beribet , banyak kabel2 bertebaran :) . Keuntungan: fungsi TTL masih jalan
  • menggunakan Radio trigger . Flash ditrigger dari kamera menggunakan frekuensi radio . Ada adapter khusus untuk mekanisme ini : transmitter dan receiver. Sesuai namanya pasti teman-teman tau artinya lah. Transmitter terpasang di body kamera . Jika flash di trigger , transmitter mengirimkan sinyal ke satu / beberapa receiver + flash . Keuntungan : tidak harus line-of-sight .. ini keunggulan utama yg banyak menarik minat orang. Kerugian : fungsi TTL (flash auto ) tidak jalan , harus manual . Dooh manual lagi ?? jaman udah canggih masih manual..hehehehe , yup manual . Hmm sebenarnya sudah ada sih , radio trigger yang bisa TTL . Silahkan google mandiri :)
Ternyata mudah , teori dan prinsip2-nya gampang diingat . Tidak jauh berbeda dengan konsep exposure pada umumnya dengan beberapa catatan seperti :
  • shutter speed mempengaruhi ambien exposure ( background )
  • inverse square law.. aga ribet nih diterangin tapi intinya exposure yang keluar dari flash akan berkurang secara bertahap dengan rumus inverse square law tersebut
  • ada tambahan lighting yaitu dari flash .. kita bisa control output-nya ( jika mode manual )
  • aperture dan ISO tetap fungsinya untuk mengatur cahaya yang masuk
Alat yang paling dibutuhkan untuk menggunakan flash secara off-camera adalah mekanisme wireless trigger (pemantik nirkabel). Pada beberapa kamera dan flash modern, kemampuan nirkabel ini sudah ada secara integrated. Di sistem Nikon di sebut sebagai CLS (Creative Lighting System) sementara di sistem Canon disebut sebagai E-TTL (Evaluative - Trough The Lens). Jangan artikan secara harfiah istilah CLS dan E-TTL, karena bisa membuat bingung artinya, lebih baik ikuti penjelasan berikut ini.

Sistem pemantik nirkabel ini berfungsi untuk menyalakan flash secara sinkron ketika kita menekan tombol shutter pada kamera. Jadi flash akan menyala ketika kita menekan shutter selayaknya flash tersebut berada di dudukan hot shoe di kamera. Uniknya, kita bisa mensinkronisasi lebih dari satu flash bersamaan sekaligus dalam suatu pemotretan. Untuk sebuah foto fashion yang dilakukan outdoor, bisa dibutuhkan 3-5 flash (bahkan bisa lebih banyak) yang dinyalakan secara off-camera. Alat wireless trigger ini umumnya menggunakan gelombang radio atau sinar infra merah untuk menyalakan flash slave (budak atau flash lain yang harus tunduk pada flash utama).

Tutorial Photoshop - Tone Warna dengan Camera RAW 4.0


Warna dan Cahaya adalah dua komposisi yang menentukan bagus atau tidak nya sebuah foto. dalam Photography tehnik tehnik pencahayaan di nomor satukan, itu menandakan betapa penting nya cahaya dalam mendapatkan hasil foto yang baik. pada posting sebelumnya saya pernah membahas tentang bagaimana cara tone warna dengan menggunakan channel mixer adjusment, color balance dan gradient tool. sekarang saya akan membahas bagaimana mengkoreksi warna dan cahaya dengan fitur Adobe photoshop  Camera RAW 4.0 yang di sematkan pada Photoshop CS3. untuk yang memakai versi Photoshop di atas CS3, baik itu Photoshop CS4 atau Photoshop CS5 untuk membuka Camera RAW dengan menggunakan Adobe Bridge lalu Open with Camera RAW. kita langsung ke pokok pembahasan kita kali ini tone warna dengan Camera RAW 4.0

Cara Membuka Foto pada Camera RAW
Sebelum membuka file foto dengan Camera RAW 4.0 kita akan settting dulu bagian File Handling agar nantinya apapun file foto yang akan kita buka pada Photoshop langsung terbuka ke Camera RAW. arahkan Mouse ke Menu Bar : Edit - Preferences - File Handling. lalu beri tanda centang pada opsi Prefer Adobe Camera RAW for JPEG files

 
Camera RAW 4.0 Tools
untuk yang masih awan dengan Camera RAW mungkin akan menemukan sedikit kesulitan untuk memahami opsi apa saja yang terdapat di dalam Camera RAW, terdapat 8 Tab setting pada Camera RAW
  1. Basic
  2. Tone Curve
  3. Detail :
  4. HSL / Grayscale
  5. Split Toning
  6. Lens Correction
  7. Camera Calibration
  8. Presets
Pandangan Penulis Tentang Tone Warna
menurut Saya secara pribadi : "tidak ada Aturan dalam toning warna foto, karna bicara warna kita akan membicarakan selera, dan antara selera manusia satu dan lain nya itu berbeda, yang terpenting dalam tone warna foto adalah keharmonisan warna akhir dari sederetan proses tone yang telah kita kerjakan"
Basic Tone
jangan bingung melihat pilihan-pilihan yang terdapat pada tab basic. kalau dilihat secara langsung tab basic terdapat 10 pilihan setting untuk  mengolah foto, tapi masing masing bar ini di pisahkan berdasarkan fungsinya sendiri
  1. White Balance
  2. Exposure
  3. Color Saturation
White Balance Tone
hanya 2 pilihan setting dari White Balance. satu dari Biru ke kuning dan yang kedua dari hijau ke magenta. geser secara perlahan Color Temperature hingga mendapatkan warna yang memang benar-benar pas dengan keinginan kita. silahkan berexplorasi dengan white balance, semakin sering kita melatih mangatur white balance maka semakin kuat kepekaan kita terhadap warna.
Exposure Tone
setting ini kita lakukan untuk mengatur terang gelapnya sebuah foto, 
1. exposure :
untuk mengatur tingkat kecerahan foto. atur dengan bijaksana tingkat exposure ini, geser perlahan bar exposure turunkan atau naikan nilai nya dengan perlahan, hingga dirasa foto tidak terlalu cerah tapi juga tidak terlalu gelap
2. Recovery :
opsi ini digunakan untuk mengurangi area foto yang terlalu terang. perhatina bagian dari foto yang sangat terang ( biasanya berwarna putih ) selaraskan dengan area yang lain, agar bagian yang terlalu terang ini turun intensitas terang nya.
3. Fill Light :
fill light digunakan untuk menaikkan cahaya pada area yang agak gelap pada sebuah foto. gunakan juga fil light dengan bijaksana, naikkan secara perlahan, hingga cahaya di keseluruhan area foto tampak harmonis
4. Black :
naikkan nilai Black maka area yang berwarna gelap akan bertambah kepekatan nya
5. Brightness :
yang ini pasti sudah nga asing lagi, coba sekarang naikkan brightness maka hasilnya foto akan tampak lebih terang secara keseluruhan, sebaliknya kalau kita turunkan nilai brightness foto akan tampak gelap secara keseluruhan
6. Contrast :
menambahkan atau menurunkan kepekatan pada seluruh area foto. foto yang terlalu contrast akan tampak kurang baik, begitu juga sebaliknya foto yang minim tingkat contrast nya akan tampak bias. sesuaikan saja nilai contrast hinnga di rasa harmonis
Pada Postingan ini saya sengajakan untuk tidak memasukkan nilai-nilai yang harus dimasukkan untuk mengatur opsi-opsi Camera RAW, karna tujuan saya membuat Posting ini adalah untuk sebagai sarana Photosoper berexplorasi dengan Warna dan Cahaya, belajar memahami Warna dan Cahaya, karna kedua unsur itu adalah unsur terpenting untuk menciptakan foto yang enak di pandang mata.

TUTORIAL MEMBUAT FOTO PANORAMA dengan PHOTOSHOP

Adakalanya ketika kita mau membuat foto panorama dihadapkan pada kenyataan bahwa kita tidak mempunyai lensa khusus, ataupun tidak mempunyai lensa sudut lebar. Hal ini dapat kita atasi dengan menggunakan fasilitas photomerge, dengan menggabungkan beberapa foto yang kita buat ( yang berdekatan sudut penggambilannya). Teknik ini lumayan mudah dipelajari.
1. Siapkan foto yang akan kita merge minimal 2 foto makin banyak makin bagus
disini saya memakai 2 foto


2. Buka program Photoshop anda
3. Klik menu File>Automate>Photomerge, maka kotak dialog akan tampil.

3. Pilih Use: Files, Klik tombol Browse lalu pilih folder dari komputer anda

4. Pilih 2 gambar atau lebih yang telah disiapkan yang anda inginkan, lalu klik Open, 
Pilih layout Auto dan chek  blend image together, lalu klik OK

5. Klik Rectangtular Marquee Tool, lalu buat seleksi pada bagian yang ingin diambil nantinya.

6. Klik menu Image>Crop untuk memotong bagian yang ada di luar seleksi.

7. Klik menu Select > deselect atau Tekan Ctrol+D untuk menghilangkan seleksi

7. Dibagian kanan bawah di palet layer bagian bawah ada klik Adjustments>Levels

8. Atur nilai Input Levels bagian tengah, lalu klik OK bila telah sesuai.
Hasilnya foto akan tampak lebih terang dibanding sebelumnya.

9. Dibagian kanan bawah di palet layer bagian bawah ada klik Adjustments>Brightness/Contrast
Atur nilai Contrast: lalu klik OK bila sudah sesuai. Hasil penambahan akan memperjelas foto.

10. Simpan dengan nama menurut kehendak anda

11. Selesai

Semoga dapat membantu. Selamat mencoba.

belajar HDR dengan photoshop :D

Efek HDR (High Dynamic Range) dengan Photoshop

HDR atau High Dynamic Range photography banyak dijumpai di web-web tukang foto. Hasilnya sih keren banget.. cuman aku juga gak tau persis apa tu HDR dan gimana bikinnya kalo pake camera. Susah kayaknya.. Tukang photo pemula kayak aku bisanya cuman edit lewat photoshop doang.. hehehe.. HDR ini juga aku dikenalin oleh temen, dia minta tutorialnya.. ya udah aku coba bikinin deh.. mudah-mudah an mirip-mirip gambar HDR… hehehehe
 Menurut saya langkah yang kedua ini sangat penting dalam pembuatan HDR Image, yaitu setting shadow dan highlight nya .. Klik Image >adjustment> shadow/highlight. Setting seperti dibawah :

 Terus tekan CTRL + J untuk duplikat layer background, ganti layer efek dengan color dodge.

 Duplikat layer 1 dengan tekan CTRL+J trus ubah layer efek nya menjadi linear burn.

Ubah forground color menjadi Hitam dengan tekan tombol X.  Lalu klik Select > Color Range, ubah fuzziness menjadi 100. Setelah klik OK Klik Layer mask , maka muncul Layer mask di samping layer 1 copy tadi.


Karena gambar kurang oke, terlihat ada noise hitam, klik Filter > blur > gaussian Blur.


Duplikat layer 1 copy dengan menekan CTRL+J. ganti layer efek menjadi Overlay dan tekan CTRL+I untuk Inverse atau membalik warna  layer mask.
Sekarang ubah Foreground menjadi putih dengan tekan tombol X di keyboard. Lalu klik Select>color range. fuzziness tetep 100.



Setelah di OK ,  lalu drag background ke create New Layer, setelah duplikat lalu pindahkan layer background copy ke paling atas , seteleah itu klik Create Layer Mask. maka muncul layer mask baru seperti ini :


CTRL klik di layer mask background copy untuk menyeleksi layermask,  lalu Klik Adjustment layer > Gradient map.



Setting Gradient map seperti dibawah :



Kalo udan klik layermask yang terbentuk, lalu tekan CTRL +I untuk Inverse selection.


Ganti Layer efek menjadi Hard Light. kamu bisa atur Opacity nya juga terserah aja..


Sekarang kamu bisa ke layer background dan atur hue dan saturation nya.. Hasilnya kayak gini :

Friday, April 20, 2012


TUTOR KETIGA

Membuat lensa makro sendiri, khusus fotografer kere. :)

Suka fotografi ? pastinya belum lengkap kalau belum mencoba jeprat jepret serangga a.k.a makro. pengertian makro fotografi sendiri kurang lebih adalah perbesaran obyek mulai dari 1:1 - 10:1 hinga sebesar besarnya tergantung kemampuan pada lensa. pada kamera SLR biasanya ini terpaku pada ukuran sensor kamera, misalnya pada sensor full frame 36x24mm (film 35mm) dan obyek adalah lalat dengan dimensi approx 5x5mm lalu obyek yang dihasilkan dalam film/frame bisa sama dengan ukuran aslinya life-size maka ini sudah disebut makro dengan perbesaran 1:1 pada JPEG atau hasil cetak foto tentu saja sedemikian hingga mengikuti resolusi gambar. kita gak perlu pusing pusing mikirin pengertian dan hitung hitungan makro secara teknis ini, selama kita kita bisa mengambil gambar sebuah obyek dan bisa menyamai atau melebihi ukuran aslinya anggap saja itu adalah makro. kalau kurang besar di crop pun nggak haram kok yang penting masih focus dan tajam nguawuuur

meskipun kini dari ponsel hingga kamera kompak digital sudah banyak yang disertai fitur pengambilan gambar makro, tapi kemampuanya masih terbatas. selain lensa fix-nya yang tidak dapat di ganti ganti tentu saja efek bokeh yang memang hanya bisa di dapat dengan menggunakan kamera SLR, oke! mirrorless, photoshop juga bisa deh.


nah pada kamera SLR pun ada berbagai cara untuk mendapatkan perbesaran yang berlipat lipat ini, dari mulai lensa-lensa khusus makro zoom dengan jarak 1000mm mungkin ?? (bila harga bukanlah masalah) hingga cara cara alternatif seperti menambahkan teleconverter, extension tube, macro filter, sampai reverse lenses / double reverse lenses (lensa yang dibalik) ada yang pernah coba ??? majuuu mundurrr jongkok nungging sebenernya mau moto apa jadi model ?, kok malah kita yang banyak berpose heheehe keburu lari lalernya. lagipula bila saya dapat memberi saran, diantara cara-cara alternatif diatas yang terbaik adalah dengan menggunakan makro filter. kenapa? pertama harga yang relatif lebih terjangkau, kedua bisa dibuat sendiri, ketiga meminimalisir kerusakan lensa / kamera. ya! karena makro filter ini berada di depan lensa, tidak seperti aksesori lain yang dipasang diantara kamera dan lensa yang berarti beresiko merusak komponen lensa atau mount pada kamera belum lagi kompatibilitas aksesori tsb, yakinkah akan bekerja dengan baik pada auto focus, VR pada Nikon serta fungsi fungsi lainya. maka sebaiknya kita berhati hati dalam memilih aksesori yang akan di pasang di bagian belakang lensa atau diantara kamera dan lensa terutama aksesori dari pihak ketiga. kecuali dengan vendor dan brand yang sudah ternama dan terbukti kualitasnya, dan sebelumnya mencari tahu apakah kompatibel dengan peralatan kita.

jadi langsung aja ya biar gak kepanjangan nyenyenyenye nya, kali ini saya ingin berbagi pengalaman pribadi dengan menggunakan makro filter dari Lup (kaca pembesar) yang dibuat sendiri. bahan bahanya cukup mudah ditemukan dan murah meriah pastinya

kaca pembesar 3¼" (ukuran relatif) tergantung lensa, biasanya ada di toko2 buku atau peralatan sekolah/kantor.
botol minuman plastik 1L (relatif) merk terserah
isolasi (hitam) atau tergantung selera
UV filter atau netral. atau step up filter (tanpa kaca)
lem alteco atau lem kaca
silikon atau abaikan


















nah seperti gambar di atas setelah semua bahan siap maka kita mulai langkah langkah dalam merakit makro filter ini *halah* pertama tentu saja membuang gagang Lup lalu memasukan-nya ke dalam botol. kok kayak cerita jin yaaa liat dulu gambar di bawah ini




nah seperti gambar di atas bagian yang di tandai adalah bahan yang dibutuhkan untuk body filter. karena bentuknya yang demikian maka akan memudahkan kita untuk menyesuaikan Ø kaca pembesar bagian depan dan UV/step up filter ulir yang deratnya akan kita butuhkan sebagai penghubung lensa dan filter.

bagian bagian filter ini sangat sederhana yaitu kaca pembesar pada bagian depan, body dari botol plastik dan UV/step up filter sebagai penghubung lensa. langkah yang harus diperhatikan adalah saat memotong botol plastik, jangan tanya motongnya pake apa ya! pada bagian Lup hendaknya di beri sisa sekitar 5mm setelah kaca masuk kedalam botol. ingat usahakan posisi tidurnya lensa tegak lurus dengan botol. (5mm ini gunanya untuk mencegah lensa dari goresan goresan terhadap gesekan atau benturan) lalu memotong bagian belakang botol (yang diameternya lebih kecil) sebagai tempat menempelnya si UV/step up filter. ini yang harus extra hati hati dalam memotong karena supaya rapi dan pas dengan ukuran UV, saya menghabiskan 4 botol kola dalam experimen ini hihihi...

nah kalau sudah jadi cemplungkan Lup tadi ke dalam botol yang telah di potong lalu di lem alteco / lem kaca (saya menggunakan alteco) tunggu hingga kering. karena lem alteco ini sangat tajam dan mengandung gas sebaiknya tunggu hingga benar benar kering lalu elap lah Lup tadi dengan tissue atau lap panel deh. (sebelum lanjut ke tahap dua, menempelkan UV maka Lup tadi harus benar benar bersih karena hasil penguapan gas dari lem alteco tadi membuat kaca menjadi buram)

kemudian selanjutnya memasang UV/step up filter (sesuai diameter lensa anda) tempelkan dan lem filter tersebut kebagian belakang body dari botol plastik tadi. awas! bagian yang ada ulirnya di luar lo yaaaa.

pada percobaan saya diatas, saya menggunakan UV filter sebagai penghubung lensa dan body yang saya buat dan hasilnya saya harus memecahkan kaca UV filter tersebut. kenapaaaa ? karena seperti yang saya sebutkan lem alteco menghasilkan gas yang cukup membuat bagian kaca menjadi buram dan kesat (gimana mau buat macro?) maka sebelum anda mengikuti cara diatas, saya sarankan untuk mencari step-up filter atau apapun namanya yang ada ulirnya dan bisa dihubungkan ke lensa anda tetapi tanpa kaca/cermin. karena juga akan mempermudah kita untuk membersihkan filter ini untuk selanjutnya. tapi bila memang sulit untuk mendapatkanya ya sudah... pecahkan saja kacanya biar mengaduh sampai gaduh tapi akan lebih baik bila dicoba untuk mencari terlebih dahulu kan pepatah bilang orang bodoh belajar dari pengalaman sendiri orang bijak belajar dari pengalaman orang lain

nah tahap selanjutnya ialah menutupi body plastik tsb, dengan di untel untel pakai isolasi. ada ide lain ? walaupun warna tergantung selera tapi mungkin ada baiknya di beri dasar warna hitam terlebih dahulu karena saya juga kurang tahu efek warna lain bila dilewati cahaya dan masuk ke dalam sensor heheheh... Ok! cukup dan inilah hasilnya jeng jeng jeng....






oh iya, pada bahan di atas ada silikon pasta bisa juga di ganti lem kaca mungkin gunanya adalah untuk merapihkan bagian yang saya sebut lebih 5mm di luar Lup. jadi melingkar di sekeliling bekas potongan botol plastik tadi kita beri pasta dari silikon atau lem kaca atau mungkin lem paralon yaa... dan buatlah serapi mungkin supaya tidak mengotori bagian lensa. sampai disini tugas kita selesai dan tinggalah berExperiment dengan makro filter murah meriah ini horeeeee.






gambar di atas adalah my hommade macro filter ft AF-S DX VR 18-200mm

gimana ? mudah murah meriah kan ? bahkan bila memungkinkan saat kita berganti lensa pun masih bisa di gunakan dengan step-up atau step-down lenses filter sesuai dengan diameter lensa yang kita miliki. berada di bagian depan lensa yang artinya samasekali tidak mempengaruhi kinerja elektrik lensa seperti Auto Focus, VR dan pengambilan matering yang lain masih bisa berjalan normal. anggap saja kita telah menabung daripada harus membeli Rynox yang harganya bisa anda googling sendiri. nah, menurut saya pada range 200mm Lup ini bisa memberikan perbesaran sekitar 2 hingga 2,5 kali (tanpa menghitung hanya perbandingan dan felling saja) berikut adalah contoh hasil jepretan saya dengan filter ini.




DSC_2544



DSC_2549



gambar diatas adalah tanpa di crop atau ukuran aslinya. sepanjang pengalaman saya dalam menggunakan filter ini dengan jarak manteng di 200mm kita hanya perlu menjaga jarak maksimal antara lensa dan obyek kurang lebih 30cm lalu sisanya serahkan pada auto fokus. jangan tanya bisa infinity apa nggak lo yaaa!



Selesai tutor ketiga dari saya. selamat mencoba dan. Enjoy folks. :)

Monday, April 16, 2012

TUTOR 2

Pembuatan studio mini untuk foto produk rumahan. enjoy :)

 

langsung aja ya boy & sist
Berikut ini Step by Step Pembuatan Studio Mini  untuk penggunaan rumahan.
  • Studio Mini
Bahan: 1 kardus tv ukuran 50x50x50 cm (bisa lain ukuran), 5 lembar karton manila, 1 lembar karton duplek.
Alat : Pulpen, Cutter, Lem Aica Aibon, lem Fox putih, penggaris
.
Cara pembuatan
1. Buat kardus membentuk kotak sesuai lipatan. Lem dengan Aica Aibon. Tips: tunggu lem hingga setengah kering lalu rekatkan, lem yang masih basah membuatnya tidak langsung lengket.
Sisi yang di lem akan menjadi sisi atas dan bawah dari kotak studio.

2. Pada sisi atas, ukur masing - masing sisi 2 cm dari tepi, untuk memberi panduan pada pemotongan berikutnya.
 3. Potong kardus sesuai panduan dengan menggunakan cutter. Gunakan penggaris yang panjang. (atau alat pengganti: aku pakai rel korden tak terpakai)
4. Setelah dipotong, sisi depan kotak studio akan berlubang kotak seperti foto di bawah ini.
  

5. Pada sisi belakang (sisi seberang dari sisi yang sudah berlubang) lakukan hal yang sama, namun untuk bagian atas, jangan sampai terputus. 


6. Pada bagian dalam sisi bawah dan atas kotak, jika masih ada bagian yang tidak rata, tambal dengan sisa kardus bekas potongan.

7. Ratakan lem fox putih pada semua sisi bagian dalam, lalu tempelkan karton manila yang sebelumnya sudah di ukur sesuai lebar sisi kotak.





8. Buat panduan lubang pada sisi samping kotak dengan mengukur lingkar terluar corong lampu belajar. Lalu potong dengan cutter namun jagan sampai terputus. Cukup sampai memungkinkan untuk memasukkan corong lampu belajar ke dalam lubang. Lakukan pada kedua sisi samping.



9. Pada sisi atas kotak,ukur 2 cm dari tepi luar, buat celah selebar 5mm, sepanjang sisi kotak. Celah ini untuk memasukkan karton duplek yang akan dipakai sebagai background, celah ini memungkinkan kita untuk mengganti - ganti warna bakground.



10. Masukkan karton duplek yang telah disesuaikan lebarnya sama dengan lebar kotak studio.
























11. Dan jadilah studio mini ini. ehmmm 


Selamat mencoba dan HAPPY POTRET folks. :)